Tuesday, August 4, 2015

Olahraga Tim Itu Perlu



Oleh; Teguh Wahyu Utomo

Bagus sekali jika sekolah-sekolah sudah memberi aktivitas ekstrkurikuler olahraga. Yang ditawarkan idealnya jenis-jenis olahraga sesuai kebutuhan atau minat para siswa. Namun, tidak gampang memberi wadah bagi berbagai keinginan masing-masing siswa. Biasanya pilihan ditentukan berupa sekolah menawarkan sejumlah jenis olahraga. Murid-murid dibolehkan memilih satu atau lebih.

Andai yang terakhir itu tak bisa dihindarkan, ada baiknya untuk menawarkan jenis olahraga dalam tim. Olahraga tim adalah yang dimainkan oleh sekelompok atlet untuk tujuan bersama dan berhadapan dengan sekelompok atlet lain dalam kompetisi. Misalnya; sepakbola, voli, silat berpasangan, bulutangkis ganda, renang indah, lari estafet, dan sejenisnya. Bedakan dengan olahraga perorangan semacam golf, silat sabung, bulutangkis tunggal, lari marathon dan sejenisnya.

Nah, untuk pendidikan karakter, olahraga tim ini bisa memberi banyak manfaat pada murid. Dalam olahraga tim, pihak yang bisa bekerjasama dengan baik biasanya yang menjadi pemenang. Belajar bekerjasama dengan pihak lain menuju tujuan bersama ini lah yang membangun karakter, pertemanan, mempercayai diri sendiri dan orang lain, hingga berbagai life skills penting. Bahkan, bagi beberapa atlet, persahabatan dan kekompakan dalam tim bisa berlangsung seumur hidup.

Untuk murid-murid yang usia muda, olahraga tim bisa memberi cara positif mengalihkan perhatian dari pengaruh buruk lingkungan sekitar. Saat banyak godaan untuk menggunakan narkoba, berperilaku tidak senonoh, atau kecenderungan bertindak kriminal, olahraga tim bisa jadi alternatif penyalur energi sehingga memberi hasil lebih positif. Saat menangani remaja yang kelebihan energi, banyak psikiater atau psikolog menyarankan mereka terjun ke olahraga tim sehingga terhindar dari aksi negatif.

Olahraga tim juga memberi jalan bagi kaum muda untuk keluar rumah dan bersosialisasi dengan teman-teman yang sejalan. Jika sudah jenuh dengan pelajaran, mereka tidak menghabiskan waktu dengan hanya duduk atau tiduran tanpa banyak bergerak untuk main games atau menonton televisi. Dengan berolahraga, mereka bisa lebih aktif menggerakkan badan sehingga jadi lebih sehat dan kuat.

Selain fisik lebih sehat karena banyak bergerak, berolahraga tim juga memberi keuntungan psikologis. Kerjasama tim membuat seseorang menjadi bagian berharga dalam kelompok. Ia bisa merasa menjadi bagian yang dibutuhkan di dalam tim. Pada saat yang sama, ia juga menyadari kebutuhan akan teman lain di dalam tim. Ia dan teman-teman bekerjasama saling menolong untuk mencapai tujuan bersama. Kerjasana tim ini memberi mereka rasa saling menghargai satu sama lain, dan bisa membangun persahabatan yang lebih baik dan awet.

Meski banyak bekerjasama, olahraga tim juga memberi peluang untuk bersaing atau berkompetisi. Tidak sendirian atau individual, olahraga tim justru memberi cara bekerjasama dalam kelompok untuk bersaing melawan tim lain demi kemenangan. Dalam tim futsal, misalnya, kapten bisa memotivasi seluruh timnya untuk mengerahkan seluruh daya agar memenangi setiap pertandingan dan menjadi juara.

Meski kemenangan bukan tujuan puncak atau bukan segalanya dalam olahraga, kompetisi yang sehat tetap saja baik bagi kaum muda. Lewat olahraga tim, mereka bisa menyalurkan kerja keras ke dalam prestasi yang terbaik. Penyaluran energi secara positif ini bisa mencetak murid kelak menjadi manusia yang bisa bersaing dengan cara yang baik di jagad nyata. Bekerja sama mencapai tujuan bisa mengajari mereka nilai-nilai kerja keras, komitmen, dan dedikasi. Olahraga tim adalah jalan hebat untuk mempelajari nilai-nilai semacam itu.

Kerjasama tim dalam olahraga bisa membantu murid-murid memiliki ketrampilan berkomunikasi yang baik. Banyak tugas sekolah, dan karya ilmiah, membutuhkan kerja kelompok untuk menghasilkan presentasi dahsyat di depan guru atau penguji. Jika sudah terlatih berkomunikasi dan bekerjsama dalam olahraga, sangat mudah bagi murid untuk mengarahkan semua perhatian tim menuju penyelesaian tugas atau penelitian dengan baik dan tepat. Olahraga tim juga mengajari bagaimana menghadapi tekanan atau konflik atas berbagai kondisi di dalam tim. Jika sudah pandai mengendalikan konflik, murid-murid akan jauh lebih efisien dalam mengerjakan tugas atau membuat karya ilmiah berkelompok.

Nah, selamat memanfaatkan.

Penulis adalah praktisi media massa, berbagi pengalaman dan pengetahuan di UPN Veteran Jatim, dan bisa dihubungi di cilukbha@gmail.com, 081332539032, atau 29E810F1

Monday, August 3, 2015

Kecerdasan Spiritual untuk Guru



Oleh; Teguh Wahyu Utomo

Istilah ‘kecerdasan spiritual’ sering digunakan beberapa filsuf, psikolog, hingga teoris perkembangan, untuk mengindikasikan kesejajaran kondisi spiritual dengan IQ (Intelligence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient).

Danah Zohar melontarkan istilah ‘spiritual intelligence’ (disingkat SQ) dalam bukunya ReWiring the Corporate Brain pada 1997. Howard Gardner, penggagas teori 'multiple intelligences', tidak memasukkan spiritual intelligence di dalam ‘sejumlah kecerdasan’ temuannya dengan alasan susah mengkodekan kriteria ilmiahnya. Meski demikian, para peneliti kontemporer terus menggali eksistensi SQ ini.

Pada dasarnya, spiritualitas itu ada dalam diri siapa saja. Boleh dikata, setiap manusia bernyawa tentu punya spiritualitas. Namun, derajad kedalamannya dan ekspresinya bisa bermacam-macam. Sangat mungkin spiritualitas itu ada di alam sadar atau bahkan sudah di alam bawah sadar. Bisa saja spiritualitas itu sudah berkembang, bisa juga belum berkembang. Bisa saja bersifat naïf atau malah sangat canggih. Semua bergantung pada diri pribadi orang masing-masing dan bagaimana mengembangkannya.

Bagi umat beragama, spiritualitas bisa digambarkan sebagai hubungan tingkat tertinggi dengan Tuhan yang Mahatransenden. Jabaran dari spiritualitas ini bisa menjadi hubungan ke atas dengan Tuhan, hubungan sejajar dengan sesama manusia atau dengan alam semesta. Maka, spiritualitas ini bisa menghasilkan kehidupan yang baik sebagai manusia di dalam alam.

Kecerdasan spiritual bisa didefinisikan sebagai level bagaimana kita mengekspresikan kualitas spiritual sejati kita ke dalam alam pemikiran kita, ke dalam sikap kita, hingga ke dalam perilaku kita sehari-hari. Dengan kecerdasan itu, kita bisa menggunakan apa yang kita yakini dengan cara yang tepat dan pada waktu yang tepat untuk tujuan yang benar. Semua itu berdasarkan landasan yang diajarkan Tuhan.

Kenapa kecerdasan spiritual perlu dikembangkan?

Kehidupan manusia belakangan ini semakin kompleks, permasalahan akibat ‘kehidupan mekanis’ semakin meningkat, gaya hidup manusia berubah semakin mengarah ke materialistis. Cara-cara sekuler lewat teknologi dan sains juga tidak cukup memecahkan tuntas permasalahan manusia dalam sisi emosional, mental dan bahkan fisik. Kehebatan material ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual manusia. Dari sini, muncul kebutuhan spiritual manusia untuk melawan berbagai kebutuhan dan kehendak material. Agama tentu saja diharapkan bisa menjawab permasalahan manusia tentang hal-hal spiritual itu.

Guru tentu sangat perlu mengembangkan kecerdasan spiritual. Itu karena status guru sebagai sosok yang paling penting dalam pendidikan generasi bangsa. Jika guru menunjukkan kecerdasan spiritual, itu bisa menjadi sumber inspirasi bagi siswa-siswa muda yang sedang dalam tahap mencari jati diri.

Ada sejumlah murid yang berhasil mencatat skor IQ tinggi, namun tidak memiliki rasa kasih-sayang, kebaikan, atau keadilan. Lalu, berapa nilai spiritual dari intelejensi yang tinggi itu? Rasanya, akan lebih baik punya murid dengan IQ biasa-biasa saja namun bisa menunjukkan karakter dan ‘hati’ yang manusiawi.
 
Nah, guru dengan kecerdasan spiritual tinggi akan bisa membimbing murid IQ tinggi untuk tetap membumi. Kecerdasan spiritual guru akan membimbing kecerdasan intelektual murid untuk tetap berada di koridor kemanusiaan menuju ke arah ke-Tuhan-an. Di sisi lain, guru dengan kecerdasan spiritual tinggi akan memberi inspirasi pada murid berkarakter manusiawi untuk bisa mengasah IQ menjadi lebih tajam.


Penulis adalah praktisi media, berbagi pengetahuan di UPN Veteran Jatim, berbagi motivasi dengan kalangan umum, dapat dihubungi di 081332539032, cilukbha@gmail.com, atau https://www.facebook.com/teguh.w.utomo

Mengajak Remaja untuk Melek Media


Oleh; Teguh Wahyu Utomo
 
Ada gagasan besar, dan tentu saja berat, dari Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anies Baswedan beberapa saat lalu. Di Auditorium Gubernuran Sumatera Barat di Padang pada 15 Juni 2015, Pak Menteri mencanangkan gerakan nasional Remaja Melek Media. “Literasi media ini penting bagi siswa, saat begitu luar biasanya arus informasi di era globalisasi sekarang ini," ujarnya.
 

Betul, saat ini informasi bisa menyerbu kita kapan saja dan di mana saja. Seolah-olah, di jagad ini sudah tidak ada lagi ruang untuk benar-benar menyendiri. Sudah tidak mungkin lagi ada istilah ‘katak dalam tempurung.’ Sepanjang kita mampu dan mau mencari, apa pun bisa kita tahu. Tinggal pencet tombol, informasi berdatangan lewat radio, televisi, layar laptop, hingga telepon di genggaman tangan.
 

Nah, masalah muncul bukan karena seretnya produk informasi yang disampaikan media. Masalahnya sekarang justru bagaimana remaja mengenali mana media yang baik dan yang buruk, cara penyampaian yang benar dan yang salah, serta info yang akurat dan yang asal-asalan. Di sini perlunya melek media sehingga remaja bisa memilih informasi yang pas kebutuhannya tanpa merusak moral atau mentalnya.
 

Melek media bisa dikatakan sebagai kepanjangan dari melek huruf. Setelah bisa baca dan tulis, remaja juga harus melek isi dari apa yang dituliskan dan yang dibacakan. Remaja harus memahami isinya isi informasi. Tidak langsung menerima mentah-mentah apa yang disajikan, tapi tahu dan sadar untuk menelaah kandungannya hingga apa yang ada di balik penyajian informasi itu. 

Untuk benar-benar melek media, remaja harus belajar banyak hal.

·        Pertama, memahami alat produksi media; teknologi apa yangdigunakan untuk menghasilkan dan menyebarkan info, siapa yang mencari dan mengolah informasi, siapa yang memiliki perusahaan media dan bagaimana mereka mencari untung, regulasi yang mengontrol produksi dan distribusi informasi, apa yang boleh disampaikan dan yang tak boleh disampaikan oleh lembaga-lembaga media tetentu, dan lain-lain.

·        Kedua, memahami bahasa media; bagaimana media menggunakan berbagai bentuk bahasa untuk menyampaikan fakta, ide atau makna, bagaimana memilih bahasa yang bisa diterima sebanyak mungkin orang, bagaimana aturan-aturan gramatikal media dan apa yang terjadi jika aturan itu dilanggar, apa dampaknya pemilihan kata atau bahasa tertentu bagi konteks informasi, dan lain-lain.

·        Ketiga, memahami audiens media; sekolompok manusia mana yang dibidik khusus oleh media tertentu, bagaimana media tertentu ‘mengobrol’ dengan audiensnya, bagaimana cara media menjangkau audiens, bagaimana audiens menggunakan info media untuk kehidupan sehari-hari, bagaimana audiens menalar produk media, kepuasan apa yang didapat dari media tertentu, dan lain-lain.

·        Keempat, memahami kepentingan media. Remaja harus memahami apa yang dicari lembaga media tertentu utuk menyampaikan informasi. Rasanya, banyak orang dan perusahaan media yang menggunakan produk informasi untuk mendapatkan keuntungan finansial, keuntungan politik, mencari prestise, dan sejenisnya. Namun, banyak juga individu atau lembaga media yang secara sukarela berbagi informasi. Di sini kadang bisa terlihat keculasan atau kebaikan individu atau perusahaan media tertentu.

Untuk menilai media itu beres atau tidak, remaja harus paham aturan hukum sebagai parameternya. Untuk menilai kepentingan media, remaja harus mengenal siapa produsen medianya dan bagaimana kondisinya di masyarakat. Untuk menilai konten/isi media bagus atau tidak, remaja harus paham hukum, etika dan moral serta kebutuhannya sendiri.

Rumit sekali, bukan?

Menteri Anies meminta para guru lebih melek informasi dan media massa untuk bisa ditularkan kepada muridnya. “Tidak ada pilihan lagi. Hari ini kita banjir informasi. Sebelum pelajar melek media, guru harus melek terlebih dahulu," kata Menteri Anies di Padang.

Pertanyaan berikutnya; apa para guru sekarang sudah cukup melek media untuk bisa membimbing murid-murid agar ikutan melek media juga? Nah, sekarang silahkan para guru bercermin dari empat pemahaman yang saya paparkan di atas. Sudah benar-benar melek, atau masih merem atau setengah merem.


 
Penulis adalah praktisi media massa, berbagi pengetahuan dan pemahaman di UPN Veteran Jatim, memberi pelatihan motivasional pada umum, dan bisa dihubungi di 081332539032 atau cilukbha@gmail.com, atau https://www.facebook.com/teguh.w.utomo

Sunday, April 26, 2015

Ayo, Lebih Peduli pada Siswa



Sudahlah, tak perlu berdalil-dalil; Sudah jelas bahwa guru yang peduli bakal bisa membuat siswa berkinerja lebih bagus di sekolah dan berperilaku lebih baik terhadap sesama.

Nah, sekarang, coba kita tanyai diri sendiri, “Apa sih yang paling dikenang dari guru favorit saya dulu?” Jawabnya kemungkinan kecil tentang bagaimana mata pelajaran yang diberikan. Yang paling mungkin kita kenang justru bagaimana kita merasakan perilaku guru favorit itu. Guru bakal lebih banyak dikenang dari perilakunya daripada mata pelajaran apa yang diberikannya!

Perilaku guru itu akan mendorong bagaimana kita merasakan pelajaran, kegembiraan kita menemukan sesuatu yang baru, keamanan dan kenyamanan kita saat mencoba melakukan sesuatu yang baru meski mungkin keliru, kepercayaan diri kita saat menghadapi masalah, dan ketrampilan kita melakukan sesuatu, dan sejenisnya.

Salah satu perilaku paling mengesankan di benak murid adalah kepedulian guru. Bahkan, kepedulian guru ini memberi dampak cukup besar pada pengalaman pembelajaran siswa. Mari kita bandingkan misalnya ada dua guru sama-sama mengajar pembagian matematik pada murid kelas 3 SD. Satu guru sabar membimbing murid, lainnya mengajar sekenanya. Guru mana yang lebih cepat membuat murid paham pembagian matematik?

Banyak penelitian menunjukkan hubungan saling peduli antara guru dan murid lebih bisa meningkatkan prestasi akademis dan perilaku ‘pro-sosial’. Guru yang peduli juga bisa memberi harapan bagi siswa bermasalah. Hal terbaik yang bisa dilakukan guru adalah memahami dan peduli keadaan siswa. Jika gurunya menyerah, siswa yang bermasalah tentu lebih cepat patah.

Ada banyak perilaku yang bisa menunjukkan kepedulian guru terhadap siswa. Masing-masing guru tentu punya cara sendiri untuk menunjukkan rasa peduli itu. Kepedulian juga bisa ditunjukkan dalam kondisi berbeda. Namun, ada beberapa hal yang umum dilakukan. Antara lain, berikut ini;

     1. Mengenali siswa dan kehidupan yang dijalaninya. Ini penting jika guru itu punya siswa dari beragam kondisi kultural atau sosio-ekonomi berbeda. Kesalah-pahaman kultural/sosial/ekonomi ini bisa memberi pengaruh buruk pada pengalaman belajar siswa. Maka, ada baiknya guru sering berkunjung ke tempat tinggal murid untuk mengenal latar belakangnya. Jika tidak sempat, sesekali minta siswa menuliskan keinginannya. Dari tulisan itu, guru bisa mereka-reka kondisi siswanya. Untuk cek-ulang, guru bisa mengajak siswa mengobrol tentang isi tulisannya sehingga kondisi di luar sekolah bisa diketahui.

     2. Lebih aktif mendengar siswa. Guru yang aktif mendengar bakal lebih peka ‘mendengar makna’ dari apa yang dikatakan siswa. Lalu, guru bisa cek-ulang untuk memastikan siswa tadi benar-benar dimengerti. Kepedulian ini bisa meningkatkan rasa percaya diri siswa dan bisa membantu mengembangkan hubungan saling percaya antara guru dan siswa. Jika suasana kelas terlalu ramai atau gaduh, sisihkan waktu dan tempat khusus untuk benar-benar mendengar siswa yang membutuhkan itu.

     3. Sering minta feedback dari siswa. Pilih topik apa saja —tidak harus akademik. Lalu, minta siswa menuliskan beberapa kalimat tentang apa yang membuatnya tertarik atau bingung tentang topik itu. Dengan membaca tulisan itu, guru bisa mendapatkan feedback dari siswa. Dengan mengomentari feedback itu, guru bisa menunjukkan kepedulian menghargai pendapat siswa. Jika sering dilakukan, ini bisa menciptakan kultur di mana murid merasa aman dan nyaman mengajukan pertanyaan atau mengambil kesempatan melakukan sesuatu. Kultur demikian sangat pendukung perkembangan siswa secara akademis.

Jangan lupa, sebagai guru, satu tanda kecil kepedulian bisa berpengaruh besar pada siswa. Ada kasus siswa nakal yang dalam dua tahun pindah tiga sekolah. Saat di sekolah terakhir, siswa tadi tersentuh saat gurunya menelpon rumahnya ketika dia absen. Sebelumnya, di sekolah lainnya, ia sering bolos tapi tidak pernah ada satu pun pihak sekolah yang menanyainya atau menelponnya. Siswa itu akhirnya sadar ia sering membolos karena merasa kurang diperhatikan sekolahnya.

Tuesday, April 21, 2015

Sifat-sifat yang Harus Dimiliki Guru



Ada yang bilang, “Ah, jadi guru itu gampang. Pemerintah sekarang kekurangan tenaga pendidik. Tinggal daftar dan lulus tes, kita bisa jadi guru.”

Oh, pendapat di atas itu keliru. Yang punya pendapat seperti itu tentu belum mendalami seluk-beluk menjadi guru. Jika betul-betul tertarik menjadi guru, tak cukup hanya lulus tes dan bisa mengajar. Guru sejati tidak sekadar memikirkan diri sendiri, tapi juga bagaimana membuat murid merasa nyaman saat belajar dan berhasil di masa depan.

Kenyataannya, jadi guru itu juga tidak gampang. Banyak pihak luar yang tidak menyadari tuntutan dan stress yang ditanggung guru. Menangani puluhan murid dengan berbagai karakter tentu butuh sangat banyak energi.

Nah, sekadar untuk mengingatkan, berikut ini sejumlah sifat baik yang harus dimiliki guru;

1.      Sabar.
Guru harus sabar. Harus disadari, tidak setiap murid punya kemampuan belajar yang sama cepat. Harus diingat, banyak hal bisa terjadi dalam kelas yang tidak selalu bisa dikontrol. Maka, guru harus punya stok dua atau bahkan tiga gudang kesabaran.

2.      Kontrol diri.
Bisa jadi ada murid yang merasa tidak beres sejak pagi. Si murid menumpahkan perasaan pada guru karena memang tidak tahu cara lain yang lebih baik. Nah, guru harus bisa mengendalikan diri. Boleh jengkel, tapi jangan meledak marah. Boleh bersimpati, tapi harus tetap cari tahu apa yang terjadi.

3.      Profesional.
Guru itu model peran di dalam dan di luar kelas. Figur yang patut digugu dan ditiru. Murid-murid mengamati apa yang melekat di fisik dan pribadi guru. Karena itu, guru harus profesional. Berdandannya profesional, berkerjanya profesional, kata-katanya juga profesional. Ini membuat murid jadi menghargai guru.

4.      Bisa
Guru harus punya sikap ‘harus bisa’, sehingga mendorong murid bisa juga. Saat menghadapi tugas apa pun, pantang bagi guru menolak atau menyerah. Tugas apa pun harus dituntaskan. Namun, bila tidak bisa, jangan mereka-reka tugas jadi tuntas. Lebih baik bekerjasama dengan pihak-pihak lain untuk menuntaskannya dengan cara benar.

5.      Adil.
Adil berarti menempatkan sesuatu sebagaimana seharusnya atau sepatutnya. Perlakukan semua murid seadil mungkin; meski tidak gampang. Sikap demikian bisa meminimalisir konflik atau kecemburuan.

6.      Menghargai.
Jika guru menghargai dan menghormati murid, imbal-baliknya adalah guru juga bakal dihargai dan dihormati murid. Ini terkait dengan sifat guru sebagai model peran yang patut digugu dan ditiru.

7.      Cerdas.
Guru harus menunjukkan level tinggi bagi kecerdasan dan pengetahuan. Pasti, guru tidak punya jawaban atas semua hal di jagad ini. Mungkin, ada saat-saat tertentu guru telat mikir. Namun, guru harus tahu di mana dan bagaimana menemukan jawaban atas pertanyaan yang belum terjawab.

8.      Proaktif.
Jangan menunggu situasi buruk terjadi lalu berreaksi. Lebih baik, ambil pendekatan dan langkah-langkah proaktif untuk mencegah sumber-sumber situasi meledak menjadi kondisi buruk yang di luar kontrol. Misalnya, pahami bagaimana menangani murid yang suka menganggu kelas sebelum gangguan kelas menjadi kebiasaan si murid.

9.      Integritas.
Guru harus memegang teguh moral dan etika, dan jangan berkompromi dengan integritas. Sekali cacat moral dalam karir, seumur-umur itu akan tercatat di benak kolega, murid, dan institusi.

10.     Humor
Bangun suasana belajar menyenangkan lewat humor. Bukan cuma murid jadi suka, guru pun jadi lebih mudah mengelola kelas. Cuma, bercandanya harus dalam batas-batas wajar.

11.     Membawa diri.
Guru juga manusia yang mungkin salah. Maka, jangan salah-gunakan kekuasaan, namun bersikaplah rendah hati di hadapan murid. Guru boleh menempatkan diri sebagai mitra senior yang membimbing adik-adik murid. Guru berbagi apa yang diketahui tapi tidak perlu menjadi fokus. Biarkan para murid jadi fokus proses pembelajaran.

12.     Bijaksana
Pengetahuan, pengalamgan, dan otorita guru harus diterapkan dengan bijaksana. Memang, butuh kematangan untuk menjadi bijaksana. Namun, seiring bertambahnya pengalaman dan jam terbang, sifat bijaksana itu bisa merasuk ke dalam pemikiran, sikap, dan perilaku sehari-hari seorang guru.

Tentu masih banyak sifat baik yang harus dimiliki guru. Tentu, untuk bisa meresapkan seluruh sifat itu ke dalam diri juga butuh waktu.

Jangan khawatir. Yang penting, guru harus tekun membina sifat-sifat itu di dalam diri agar bisa meningkatkan status menjadi guru sejati.