Friday, February 13, 2015

Menulis itu Bisa Sembuhkan Luka

Buku ini bisa meringankan beban penulisnya


Oleh; Teguh Wahyu Utomo

Judul di atas itu betul. Nggak percaya? Ada bukti ilmiahnya dan bukti nyatanya.

Elizabeth Broadbent, profesor ilmu kedokteran di University of Auckland, Selandia Baru, melaporkan hasil penelitiannya di jurnal Psychosomatic Medicine edisi Juli 2013. Ia menggambarkan manfaat menulis ekspresif bagi pemercepatan kesembuhan luka. Menurut hasil penelitiannya, pemulihan luka biopsi medis lebih cepat terhadap 49 orang dewasa sehat.

Dalam penelitian, para peserta eksperimen menuliskan pikiran dan perasaan mereka selama 20 menit tiga hari berturut-turut selama dua minggu sebelum biopsi. Sebelas hari kemudian, 76% dari mereka menuliskan lukanya sudah pulih sepenuhnya. Angka ini jauh lebih baik dibanding 78% dari kelompok pengendali yang mengaku lukanya belum pulih. Studi menyimpulkan, menulis tentang peristiwa-peristiwa stress bisa membantu peserta menalar secara logis peristiwa itu sehingga bisa mengurangi stressnya.

Betapa besar manfaat menulis refleksif bagi kesehatan fisik dan psikologis ini dirasakan betul Profesor Bacharuddin Jusuf Habibie. Ya, mantan Presiden Indonesia ini pernah mengalami masa-masa buruk. Hasri Ainun Besari, wanita yang dinikahi Habibie pada 12 Mei 1962, akhirnya meninggal di Munchen, Jerman, pada 22 Mei 2010. Ditinggalkan wanita belahan hidup ini membuat kehidupan Habibie limbung, depresi berat, hingga nyaris gila. Bahkan, jika tidak ada tindakan besar, bisa jadi Habibie menyusul kekasih hatinya.

Dalam wawancara dengan Tempo, terungkap bahwa yang membuatnya syok Habibie adalah ia baru mengetahui Ainun menderita kanker ovarium hanya dua bulan sebelum istrinya meninggal. Maka, beberapa waktu setelah kematian, Habibie masih seperti orang gila. Misalnya, suatu hari, pukul 02.30 dini hari, dengan pakaian tidur, Habibie berjalan kaki di sekeliling rumahnya sambil menangis seperti anak kecil mencari ibunya.

Orang-orang sekitarnya pun khawatir. Maka, dipanggillah dokter langganan keluarga Habibie untuk konsultasi. Pemeriksaan dokter menyatakan Habibie menderita psychosomatic malignant (keadaan yang semakin memburuk akibat masalah-masalah psikologis). Hubungan Habibie-Ainun terlalu dekat sehingga perpisahan itu sangat menyakitkan secara psikis. Habibie tenggelam dalam kesedihan luar biasa.

Dokter pun memberi empat saran. Pertama, Habibie harus dirawat di rumah sakit jiwa. Kedua, tetap di rumah tapi ada tim dokter dari Indonesia dan Jerman ikut merawat. Ketiga, dipersilakan curhat kepada orang-orang yang dekat dengan Habibie dan Ainun. Keempat, dengan menulis. Nah, Habibie pilih yang keempat.

Maka, siang dan malam Habibie membenamkan diri di depan komputer dan kertas. Ia mencurahkan segala apa yang ada dalam fikirannya tentang Ainun. Ia menceritakan apa saja mulai dari awal pertemuan dengan Ainun, sampai akhirnya Ainun menghembuskan nafas terakhirnya karena komplikasi penyakit. Habibie menumpahkan semua uneg-uneg dari dalam lubuk hatinya ke atas kertas.

Habibie ingat betul kapan pertama kali jatuh cinta kepada Ainun. Saat itu, pada malam takbiran 7 Maret 1962, Habibie silaturahim ke rumah keluarga Besari, ayah Ainun, di jalan Rangga Malela, Bandung. Pandangan mata pertama dengan Ainun telah menimbulkan perasaan rindu untuk berpandangan lagi. Pandangan pada mata malam itu lah yang mengantarkan keduanya pada kisah-kisah romantisme hari berikutnya, dan menikah tiga bulan kemudian.

Ainun juga selalu mendampingi dan mendukung pekerjaannya sebagai Menteri Riset dan Teknologi era Presiden Soeharto. Sebagai istri anggota Kabinet Pembangunan, Ainun aktif dalam Dharma Wanita. Ainun memimpin Balai Bina Kerta Raharja, lembaga sosial yang bergerak menjadikan para tuna wisma menjadi transmigran. Saat Habibie menghadapi masa-masa krisis pada reformasi Mei 1998 dan menjabat Presiden ke-3 RI selama 17 bulan, Ainun tabah mendampinginya. Ainun selalu mandiri dan tidak pernah mengeluh atau menggangu pekerjaan suami. Seberat apapun pekerjaannya, ia selalu memberi senyuman menenangkan suami.

Habibie juga menuliskan detik-detik perpisahannya dengan Ainun yang terbaring sakit di rumah sakit Ludwig Maximilian University di Muenchen. Setelah Ainun berpulang, Habibie masih mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui pikiran dan perasaannya. “Di mana Ainun berada saat ini? Bagaimana Habibie bisa terhubung dengan Ainun?” Semua dijawab Habibie dengan memanfaatkan pengetahuan, pengalaman dan keyakinannya.

Maka, lahirlah buku setebal 323 halaman yang diterbitkan The Habibie Center. "Bagi saya pribadi, hikmah menulis buku ini, telah menjadi terapi untuk mengobati kerinduan, rasa tiba-tiba kehilangan oleh seorang yang selama 48 tahun 10 hari berada dalam kehidupan saya,” begitu tulis Habibie dalam pengantar.

Setelah meluncurkan buku itu, Habibie memang masih sering menangis terbata-bata saat diwawancarai media massa tentang mendiang istrinya. Namun, secara umum, ia seolah ‘dilahirkan kembali’ setelah mengalami masai-masa malignant. Ia bisa tampil di depan umum dengan lebih tegar, bisa menikmati olahraga berenang seperti sebelumnya, bisa melontarkan gagasan-gagasan cemerlang untuk negerinya.

Bukan cuma memberi manfaat bagi kesehatan fisik dan psikis pribadi Habibie, ternyata buku itu juga menginspirasi begitu banyak kaum muda. Buku berjudul Habibie & Ainun itu dibeli banyak orang sehingga dicetak sampai tiga kali. Bahkan, film dari buku itu juga menyedot banyak penonton. Sebagai ilustrasi, film dengan judul sama itu dinikmati lebih dari 3 juta penonton di gedung bioskop hanya dalam tiga minggu pertama pemutaran. Belum lagi yang menonton di CD.

Maka, kalau sedang resah atau sakit, kita bisa meniru apa yang pernah dilakukan Habibie. Semoga keresahan kita (setelah tertuang dalam tulisan) berubah menjadi energi positif yang bisa menyembuhkan diri kita sendiri dan menginspirasi banyak orang.

Jadi, MENULISLAH.


Penulis adalah praktisi media, berbagi pengetahuan dan pengalaman di kampus, berbagi inspirasi pada umum lewat motivational training; bisa dihubungi di 081332539032 atau cilukbha@gmail.com

Thursday, February 12, 2015

Teknik 5W+1H+1W Merangsang Anak untuk Banyak Tahu

photo; destech.files.wordpress.com


Teguh Wahyu Utomo

Rasa ingin tahu itu sangat mungkin terkait usia. Saat masih usia 3 tahun, anak sangat ingin tahu ini atau itu sehingga aktif bertanya. Saat usia 13 tahun, anak sudah mulai jarang bertanya di sekolah. Saat usia 23 tahun di kampus, disuruh bertanya saja malah enggan. Betul, nggak?

Sebenarnya, sungguh memprihatinkan jika anak sudah mulai tidak tertarik untuk ingin tahu. Jika sudah tidak agresif ingin menambah pengetahuan, anak bisa kesulitan berfikir kritis, melakukan kreasi, atau menemukan inovasi. Padahal, semua itu akan sangat berguna dalam kehidupannya kelak saat dewasa.

Maka, sudah menjadi kuwajiban orangtua atau guru untuk melatih anak agar selalu ingin tahu dan mendapat pemahaman baru. Nah, ada metode yang biasa digunakan para ahli untuk memicu siapa saja mencari pengetahuan baru. Metode itu biasa dinamai 5W+1H+1W. Dengan metode ini, anak akan banyak bertanya.

Metode 5W+1 H+1W ini berbentuk pertanyaan-pertanyaan dasar yang jawabannya bisa memenuhi standar pengumpulan informasi lengkap. Pengembangan lebih jauh, metode ini bisa mengungkap fenomena lebih dalam sehingga anak akan mendapatkan pemahaman.

Metode ini sudah digunakan para filsuf ahli retorika era Yunani kuno dan Romawi kuno. Namun, ada rumusan sederhana yang dibuat Rudyard Kipling dalam bukunya Just So Stories (1902). Sebuah puisi yang menyertai kisah ‘The Elephant's Child’ dibuka dengan:

I keep six honest serving-men           
They taught me all I knew;              
Their names are What and Why and When
And How and Where and Who

Terjemahan kasarnya kira-kira; Saya punya enam sahabat jujur; yang mengajari saya apa saja. Nama mereka adalah ‘Apa’ dan ‘Mengapa’ dan Kapan’, serta ‘Bagaimana’ dan ‘Di Mana’ dan ‘Siapa’.  

Who, What, When, Where dan Why adalah 4W. How adalah 1H. Unsur dasar Who, What, When, Where bisa memberikan informasi dasar. Unsur Why dan How bisa memberikan pemahaman. Lalu, dikembangkan 1 unsur W lagi yakni ‘What Effect’ yang memberikan kemampuan prediksi. Dengan 5W+1H+1W, pemahaman anak jadi makin lengkap dan dalam.

Biasakan anak untuk akrab dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Jika sering ditanyai demikian, anak akan mencoba mencari jawabannya di berbagai lini. Sebaliknya, karena anak suka meniru, maka mereka juga akan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan serupa. Maka, pertanyaan anak jadi makin berbobot.

Contoh;

Ada apa? Hujan. 
Di mana? Di kebun. 
Kapan? Kemarin? 
Siapa yang suka hujan? Petani. 
Mengapa petani suka hujan? Karena sawahnya bisa diairi. 
Bagaimana cara mengairinya? Air hujan ditampung di waduk lalu dialirkan di sawah. 
Apa dampaknya? Padi akan tumbuh subur.

Pertanyaan dasar itu bisa dikembangkan sesuai keadaan. Bisa juga, misalnya, penekanan diberikan pada unsur ‘siapa’ sehingga perlu ditanyakan beberapa kali. Bisa juga unsur ‘mengapa’ yang ditekankan.

Selamat mencoba.

“Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)



* Penulis adalah praktisi media, berbagi pengetahuan di UPN Veteran Jatim, dan memberikan pelatihan life skill; bisa dihubungi di 081332539032 atau 29E810F1 atau cilukbha@gmail.com.

Wednesday, February 11, 2015

Membaca Itu Penting

Boleh, koq, baca apa saja di tab sambil menunggu minuman di warung pinggir hutan mangrove.

Oleh; Teguh Wahyu Utomo

Di sebuah tempat praktik dokter gigi di New York City, saya pernah melihat papan tulisan berikut ini:
    -   Without teeth, there can be no chewing.
    -   Without chewing, there can be no nourishment.
    -   Without nourishment, there can be no health.
    -   Without health, what is life?

Kalau dibuat analogi terkait membaca, saya bisa mereka-reka menjadi berikut ini;
    -  Tanpa membaca, tidak akan ada pembelajaran.

    -  Tanpa pembelajaran, tidak akan ada 'rasa' tentang jagad yang lebih besar.

    -  Tanpa ada 'rasa' tentang jagad yang lebih besar, tidak akan ada 'kegairahan' untuk menemukannya.

    -   Tanpa 'kegairahan', di mana letak kenikmatan pengetahuan?


Aktivitas manusia itu banyak berpangkal pada ‘membaca’. Tidak berlebihan jika ada orang berkata ‘kita sedang membaca perkembangan’, atau ‘kita perlu membaca sistem sosial’, atau bahkan ‘kita sedang membaca musiknya’, atau ‘kita membaca secara visual’. Seni (antara lain; musik, literatur, hingga teater), karena menawarkan diri untuk ‘dibaca’, bisa membangkitkan banyak sisi kemanusiaan —musikologi, sejarah seni, kritik sastera, interpretasi drama, hingga mengkaji kondisi sosial. Melalui bahasa, entah itu terucap atau tertulis, kita bisa mengenali, menggambarkan, menginvestigasi, hingga menginterpretasikan jagad ini.

Di jagad utopia, untuk memelihara kemanusiaan dan semua pembelajaran tingkat tinggi, kurikulum di pendidikan dasar harusnya bisa membuat semua anak mahir membaca. Bukan mahir membaca untuk sekadar lulus ujian, tapi untuk memastikan kemajuan progresif tentang kesadaran atas dunianya. Maka, akan sangat baik jika murid-murid SD disibukkan sehari-hari dengan kegiatan membaca. Bukan cuma membaca jajaran huruf, tapi juga jajaran kehidupan di sekitar. Aktivitas membaca boleh dilakukan di dalam kelas, namun sesering mungkin harus dilakukan di luar kelas.

Untuk aktivitas membaca, anak-anak dipersilahkan misalnya: ikut serta dalam aktivitas nyanyian tradisional berisi kebajikan lokal; membaca dari puisi dan dongeng lalu membahasnya; melakoni drama pendek; belajar tentang seni peran, mengingat kata-kata, dan akhirnya tampil di panggung; menampilkan rima, puisi, atau musik, ‘membaca’ ritme dan kalimat dengan tubuh. Di kelas, anak-anak dipersilakan membaca bersama dengan keras di depan guru; membaca sendirian dengan suara nyaring di depan guru, mengucapkan hafalan puisi secara bersama atau sendirian; membaca dalam hati, dan menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri, untuk mendiskusikan atas kisah yang telah dibaca.

Agar lebih peka kondisi sosial, anak-anak perlu didorong untuk menggambarkan dengan suara nyaring tentang karya seni yang diceritakan guru atau peristiwa yang diceritakan tokoh masyarakat, atau pengalaman pribadi yang mengesankan dia; mengembangkan kosa kata tentang kondisi sekitar misalnya tentang nama pohon, tanaman, bunga, buah, hingga mengembangkan konsep-konsep yang agak abstrak misalnya; miskin, gembira, aman, dan sejenisnya; mengisahkan cerita yang mereka dapatkan sendiri; menata sendiri kata-kata yang mereka telah kenali. Jika belajar bahasa asing, anak-anak diberi kesempatan mempraktikkannya sekalian;

Jika sudah mendapatkan dasar-dasar membaca saat usia dini, anak-anak akan bisa menikmati membaca dengan baik saat usia remaja dan dewasa. Jika kenikmatan membaca sudah didapatkan, anak-anak bisa lebih gampang menggali ilmu pengetahuan dan memperdalam pemahaman tentang apa saja. Jika kenikmatan membaca sudah didapatkan, akan lebih mudah dicapai kenikmatan untuk menulis dan mengembangkan sendiri ilmu pengetahuan.

Salah satu cara bagus untuk menghasilkan tulisan bagus adalah membangkitkan kembali tabungan ide dan data serta membangkitkan kembali tabungan pola-pola penyusunan kalimat dan diksi yang sejak lama tertata saat terbiasa membaca. Maka, aktivitas menulis tidak lagi sekadar mengisikan huruf-huruf dalam kertas kosong atau layar komputer kosong. Menulis bakal menjadi ekspresi kegembiraan yang tertuang dari otak dan hati yang paling dalam.

Iqra'. Ini lah melek literasi yang hakiki.

Penulis adalah praktisi media massa, berbagi pengetahuan dan pengalaman di kampus, berbagi inspirasi berupa pelatihan motivasional pada umum; dapat dihubungi di 081332539032 atau di cilukbha@gmail.com

Tuesday, February 10, 2015

Hayuk, Matangkan Bakat Siswa

Murid-murid SD Sekar di Bojonegoro sangat antusias saat diperkenalkan dengan reaksi kimia sederhana

oleh Teguh Wahyu Utomo

Ajari anak berenang, memanah, dan berkuda 

Sudah menjadi naluri orangtua atau guru untuk mengembangkan bakat dan minat anak atau siswa. Ketika bakat tereksplorasi, maka orangtua atau guru bisa membantu anak atau siswa mengembangkan hidup. Rasa percaya diri anak atau siswa ini akan tumbuh jika merasa kompeten dan trampil melakukan sesuatu yang ia nikmati. Karena sebagian waktu siswa banyak digunakan di kelas, maka guru punya peran besar untuk mematangkan bakat yang diminati itu.

Setiap individu itu unik, dan setiap anak punya banyak cara untuk mempelajari dunia masing-masing. Howard Gardner mengelompokkan cara belajar anak ke dalam delapan kategori; 1) logika dan matematika, 2) bahasa, 3) musik, 4) ruang (spatial), 5) kontrol fisik, 6) mempelajari pihak lain (social), 7) mempelajari diri sendiri (personal), dan 8) mempelajari alam.

Untuk bisa mengetahui bakat, ada sejumlah cara. Misalnya; ada tes psikologi tentang kelebihan dan kekurangan anak. Lalu, amati tingkah laku anak untuk melihat apa yang sering dilakukannya. Kemudian, ikuti perkembangannya. Jika sudah semakin jelas terlihat, beri berbagai rangsangan agar bakat dan minat itu semakin terasah.

Anak bisa belajar dengan satu atau lebih cara yang dikelompokkan Gardner. Untuk menemukan cara itu, coba uji reaksi anak dengan salah satu alat terkait delapan kecerdasan itu. Misalnya, gunakan seruling untuk membantu belajar. Lalu, lihat reaksi emosionalnya terhadap alat itu; positif atau negatif, menikmati atau bosan, senang atau jengkel. Lihat juga level aktivitasnya; lebih cepat atau lebih lambat, lebih aktif atau lebih pasif.

Untuk melihat level emosi dan aktivitas, lihat bagaimana reaksi masing-masing anak. Mungkin, ada anak yang tidak secara langsung menunjukkan reaksi emosional dan fisik secara terbuka. Maka, guru harus peka. Harap diingat, anak-anak itu bisa berkomunikasi melalui pandangan mata, kualitas suara, sikap tubuh, isyarat tubuh, perilaku, senyum, dan lain-lain. Guru yang peka bisa cepat menangkap reaksi non-verbal itu.

Untuk mematangkan bakat siswa secara efektif, guru harus meluangkan cukup waktu dan upaya untuk melakukan observasi. Amati dengan cermat bagaimana masing-masing anak berreaksi terhadap cara pembelajaran tertentu. Observasi yang cermat akan bisa mengidentifikasi kelompok siswa yang berbakat belajar secara logika, yang berbakat bahasa, dan lain-lain.

Lalu, bagaimana mematangkan bakat itu?

Sering-sering libatkan anak itu dalam aktivitas yang menyenangkan dia. Semakin sering, semakin berkembang bakatnya. Seorang anak yang segera mengenakan pakaian olahraga, mengenakan sepatu, lalu menendang-nendang bola tentu lebih berbakat sepakbola dibanding anak yang ogah-ogahan mengenakan pakaian olahraga namun justru memasang headphone di telinga untuk mendengar musik. Siswa yang sangat antusias diajak berkemah tentu lebih senang belajar tentang alam bebas daripada anak yang lebih suka merenung di pojok kelas.

Nah, orangtua atau guru bisa mematangkan bakat dan minat belajar anak dengan cara menciptakan peluang-peluang lebih beragam. Eksplorasi bakat anak dengan objek berbeda, aktivitas berbeda, hingga pertemuan dengan orang-orang berbeda. 

Anak yang berbakat matematika temukan dengan objek-objek misalnya yang geometris, berjarak, berdimensi dan sejenisnya. Anak yang berbakat matematika temukan dengan aktivitas misalnya berhitung, abstraksi, mencari pola, dan sejenisnya. Anak yang berbakat matematika temukan dengan orang-orang misalnya pedagang, ahli statistik, ilmuwan, dan sejenisnya.

Selain itu, orangtua atau guru juga harus memberi dukungan moril. Beri pujian sepantasnya, tanpa berlebihan dan terlalu sering, saat anak menunjukkan bakat dan kemampuannya. Di sisi lain, jangan banding-bandingkan seorang anak dengan anak lain atau temannya. Jangan sekali-sekali memberi label negatif meski si anak tidak menunjukkan bakat di bidang tertentu.

Saat anak terbantu menemukan bakat dan minatnya, maka itu akan sangat bagus untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri ini akan sangat membantu anak untuk meraih sukses di masa mendatang.


Penulis adalah praktisi media massa, yang berbagi pengalaman dan pengetahuan di kampus atau berbagi inspirasi lewat pelatihan motivasional pada masyarakat umum; bisa dihubungi di 081332539032 atau cilukbha@gmail.com.